Demi Sekolah, Remaja Magelang ini Mengumpulkan Uang Recehan Pada Kaleng Kue

Demi Sekolah, Remaja Magelang ini Mengumpulkan Uang Recehan Pada Kaleng Kue -Semua orang memang berhak untuk mengenyam pendidikan. Namun, tidak semua orang mampu untuk menggapai mimpinya. Mereka mesti bersusah payah untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu agar bisa mengenyam pendidikan di sekolah favoritnya dengan kondisi ekonomi yang kurang baik sehingga acap kali memaksa seseorang untuk lebih mandiri.

Kesadaran untuk hidup mandiri bisa datang kapan saja tergantung latar belakang lingkungan setiap orang yang berbeda – beda. Masih ada yang umurnya sudah menjelang kepala tiga merasa nyaman untuk dibiayai selama harta orang tuanya berkecukupan dan tak ada yang merasa keberatan. Hal tersebut tentu saja tidak menjadi masalah. Namun, banyak juga yang sudah mulai mencari penghasilan sendiri dan tidak bergantung pada harta orang tuanya di pertengahan usia 20 – an ke atas. Mereka biasanya merupakan lulusan universitas atau sekolah tinggi yang mengenyam pendidikan tinggi.

Berdasarkan data UNICEF tahun 2016, masih ada sekitar 2,5 juta anak Indonesia yang tidak bisa mengenyam pendidikan usia lanjut. Ada sekitar 600 ribu siswa SD yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMP dan sekitar 1,9 juta siswa SMP yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Sungguh kondisi yang sangat menyedihkan bukan?

Demi Sekolah, Remaja Magelang ini Mengumpulkan Uang Recehan Pada Kaleng Kue

Walaupun begitu, dengan kesulitan ekonomi yang dialami oleh sebagian siswa Indonesia, masih ada siswa yang mempunyai semangat kuat untuk menimba ilmu. Mulai dari berusaha mendapatkan beasiswa, bekerja sampingan yang tergolong tidak ringan hingga menabung dari uang saku harian.

Menjelang tahun ajaran baru, ribuan pelajar di berbagai daerah berbondong – bondong mendaftarkan diri ke berbagai sekolah maupun perguruan tinggi. Namun ada seorang pelajar yang menarik perhatian saat mau mendaftarkan diri ke salah satu sekolah yang ada di Magelang, Jawa Tengah. Nasibnya tidak seberuntung pelajar lainnya. Walaupun demikian, sikapnya lebih baik dari pelajar lainnya dengan nilai terbaik sekalipun. Bersyukurlah bagi kalian yang bisa dengan mudah mengenyam pendidikan tanpa harus memikirkan biaya.

Pelajar tersebut bernama Eka Duta Prasetya, siswa yang baru lulus dari MtsN Kota Magelang. Duta, panggilan akrab Eka Duta Prasetya, tengah menjadi viral di media sosial karena dia mendaftarkan diri untuk mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) di Magelang dengan menggunakan uang recehan.

Foto di atas memperlihatkan Duta sedang duduk di depan tumpukan uang logam di atas meja sambil menunggu sang guru selesai menghitung tumpukan uang logam tersebut.

Yuni Rusmini membagikan kisah Duta di akun facebooknya, di mana diceritakan Duta menggunakan sepeda onthel dari rumahnya yang terletak di desa Ngadirejo, kecamatan Secang, kabupaten Magelang propinsi Jawa Tengah saat mendaftarkan diri di MAN 1 kota Magelang dengan menenteng tas merah berisi uang recehan.

Dalam akun facebooknya, Yuni Rusmini mengatakan bahwa kisah Duta ini membuat banyak orang terharu karena tersentuh akan tekad dan semangatnya yang begitu kuat untuk terus bisa sekolah dengan mengumpulkan uang recehan. Ketika ditanya, Duta, yang merupakan lulusan MTsN kota Magelang, menjawab bahwa uang recehan tersebut merupakan hasil tabungannya sejak kelas 6 SD. Dia ingin terus bisa sekolah tanpa membebani orang tuanya. Niatnya sungguh mulia…

Uang recehan tersebut merupakan uang saku pemberian ayah Duta yang disisihkannya untuk ditabung hampir setiap hari. Duta mendapatkan uang saku antara Rp. 10.000,- hingga Rp. 12.000,- setiap harinya. Dia menyisihkan uang sakunya antara Rp. 5.000,- sampai Rp. 7.000,- setiap harinya untuk ditabung di kaleng bekas kue di rumahnya. Sedangkan sisanya dipakai untuk kebutuhan sehari – harinya.

Demi Sekolah, Remaja Magelang ini Mengumpulkan Uang Recehan Pada Kaleng Kue

Ayahnya, Agung Prasojo, mencari nafkah untuk keluarganya sebagai tukang parkir di RS Tentara dr. Soedjono kota Malang sedangkan ibunya, Tatik, sudah lama bercerai dengan ayahnya dan telah mempunyai keluarga baru di Bandung, Jawa Barat. Dengan kondisi seperti ini, Duta menyadari bahwa sang ayah tidak sanggup membiayai pendidikannya sehingga dia memantapkan hatinya untuk menabung.

Duta mengatakan bahwa, pada awalnya, dia ingin menggunakan uang hasil tabungannya untuk membeli komputer atau laptop yang akan digunakan untuk belajar karena ia ingin menjadi ahli komputer. Namun, atas saran sang ayah, akhirnya dia menggunakannnya untuk menutup biaya seragam sekolah di MAN 1 Payaman.

Pada awalnya, Duta ingin mengenyam pendidikan di sekolah yang menyediakan jurusan teknik komputer dan jaringan (TKJ). Di Magelang hanya terdapat dua sekolah yang mempunyai jurusan TKJ yaitu SMK Negeri 1 Magelang dan MAN 1 Magelang. Sedangkan ayahnya meminta untuk mengenyam pendidikan sambil belajar agama di sekolah yang dekat dengan rumahnya, maka Duta memilih MAN 1 Magelang daripada SMK Negeri 1 Magelang. Hal ini disebabkan oleh lokasi SMK Negeri 1 Magelang lebih jauh dari pada MAN 1 Magelang. Untuk mencapai SMK Negeri 1 Magelang, Duta harus naik angkot berkali – kali sedangkan Duta bisa naik sepeda untuk bersekolah di MAN 1 Magelang.

Duta tinggal bersama ayahnya dan neneknya, Sutiyah, yang sudah sakit – sakitan di rumah kontrakan di Griya Purna Bhakti Indah RW.09, desa Ngadirejo, kecamatan Secang, kabupaten Magelang yang berjarak sekitar 10 kilometer dari MAN 1 Magelang dan bisa ditempuh dengan naik sepeda. Duta mengatakan bahwa dia sudah biasa berangkat ke sekolah dengan naik sepeda semenjak belajar di MTs yang jaraknya lebih jauh dari saat ini yaitu sekitar 15 kilometer dari rumahnya.

Duta juga mengatakan bahwa dia memang tidak mempunyai niat untuk membuka kaleng – kaleng kue yang berisi uang hasil tabungannya untuk keperluan pribadinya. Dia hanya akan memakai uang tersebut bila neneknya memerlukan obat akibat komplikasi penyakit. Selain itu, terkadang Duta memakai uang tersebut untuk membayar tagihan air serta yang lain. Jadi bukan untuk keperluan pribadinya.

Hingga saat ini, Duta bersama bapak dan neneknya masih tinggal di rumah kontrakan. Apabila rumah kontrakan tersebut dijual, keluarga Duta tidak tahu kemana lagi akan tinggal. Walaupun dalam kondisi susah begini, Duta masih memiliki kemauan kuat untuk menimba ilmu. Ayahnya mengajarkannya dan berpesan bahwa kemiskinan bukanlah alasan utama untuk tidak bersekolah.

Duta juga mengatakan bahwa ayahnya menyuruhnya untuk mengutamakan sekolah dan jangan bekerja dulu sebelum menyelesaikan sekolahnya. Ayahnya juga mengatakan bahwa rejeki masih bisa dicari sedangkan mencari ilmu pengetahuan itu yang susah.

Sutiyah, nenek Duta mengatakan bahwa Duta sudah diajarkan untuk bersikap prihatin sejak kecil. Sewaktu teman – temannya merokok sembunyi – sembunyi, Duta diingatkan untuk tidak ikut merokok. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh kondisi ekonomi keluarganya saja. Melainkan juga Duta terkena penyakit paru – paru sejak kecil. Sutiyah amat bersyukur bahwa penyakit cucunya telah sembuh saat ini.

Sutiyah benar – benar memahami keadaan cucunya itu. Ia sering membuatkan bekal sekolah untuk Duta. Dia juga mengajarkan Duta bukan hanya sekedar konsentrasi berusaha tapi juga bersungguh – sungguh untuk berdoa. Sutiyah sempat kaget juga ketika ada pengumuman bahwa Duta menjadi juara azan di sekitar perumahan. Sutiyah juga masih ingat sampai sekarang dengan perjuangan Duta ketika pulang sekolah dalam keadaan hujan dengan seragam sekolahnya yang basah kuyup dan harus dipakai untuk keesokan harinya. Duta harus mengeringkan pakaiannya. Jikalau belum juga kering, Duta mesti menggosok seragamnya terlebih dahulu sebelum dipakai keesokan harinya.

Kisah Duta ini tentu saja merupakan inspirasi bagi semua orang yang terharu akan sikapnya yang masih mau menyisihkan uang sakunya untuk mengejar ilmu pengetahuan.

sumber : www.ceritaseru.co.id

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *